Media sosial : Validasi palsu
Media sosial sekarang bukan lagi ruang berbagi, tapi arena kompetisi eksistensi yang brutal. Beberapa hal yang bikin geram:
1. Privasi dijual demi tepuk tangan digital
Orang rela membongkar aib, trauma, bahkan tragedi orang lain atau dirinya sendiri hanya demi views. Batas antara "berbagi cerita" dan "eksploitasi diri" sudah kabur total. Yang lebih parah, netizen ikut menikmatinya seperti tontonan gladiator modern: makin sakit, makin ramai penontonnya.
2. Algoritma memelihara kemarahan, bukan kebenaran
Konten yang paling untung secara algoritmik bukan yang paling benar, tapi yang paling memancing emosi. Drama palsu, opini provokatif, dan hoaks setengah matang sengaja dipelihara karena itu yang bikin orang berhenti scroll. Kita nggak lagi mengonsumsi informasi, kita dipelihara seperti ternak perhatian.
3. Clout chasing jadi profesi terhormat
Dulu orang malu kalau ketahuan cari sensasi. Sekarang itu jadi strategi karier. Menciptakan drama, memancing kontroversi, bahkan memanfaatkan isu sensitif dianggap "growth hack" yang sah-sah saja.
4. Attention span dikorbankan demi engagement
Rata-rata orang cuma bertahan hitungan detik sebelum menggeser layar. Ini bukan cuma soal konten jadi dangkal — ini soal kapasitas manusia untuk berpikir panjang dan reflektif yang perlahan dikikis oleh desain platform yang memang sengaja dibuat adiktif.
5. Kita bukan korban pasif — kita bahan bakarnya
Yang paling menyakitkan: kita nggak bisa cuma menyalahkan algoritma atau platform. Setiap klik, setiap share dengan emosi, setiap komentar penuh amarah — itu izin yang kita berikan pada sistem untuk terus memproduksi lebih banyak sampah serupa.
Komentar
Posting Komentar