Media sosial : Validasi palsu
Media sosial sekarang bukan lagi ruang berbagi, tapi arena kompetisi eksistensi yang brutal. Beberapa hal yang bikin geram: 1. Privasi dijual demi tepuk tangan digital Orang rela membongkar aib, trauma, bahkan tragedi orang lain atau dirinya sendiri hanya demi views. Batas antara "berbagi cerita" dan "eksploitasi diri" sudah kabur total. Yang lebih parah, netizen ikut menikmatinya seperti tontonan gladiator modern: makin sakit, makin ramai penontonnya. 2. Algoritma memelihara kemarahan, bukan kebenaran Konten yang paling untung secara algoritmik bukan yang paling benar, tapi yang paling memancing emosi. Drama palsu, opini provokatif, dan hoaks setengah matang sengaja dipelihara karena itu yang bikin orang berhenti scroll. Kita nggak lagi mengonsumsi informasi, kita dipelihara seperti ternak perhatian. 3. Clout chasing jadi profesi terhormat Dulu orang malu kalau ketahuan cari sensasi. Sekarang itu jadi strategi karier. Menciptakan drama, memancing kontroversi, bahka...